Opens in a new tab
Download Daftar Harga
Disini!

Ragam Bahan Pewarna Tekstil yang Perlu Anda Ketahui!

Last Update: 29/03/2023
Bagikan

Kain biasanya memiliki warna putih polos sebelum melalui tahap pewarnaan. Tahapan pewarnaan ini diperlukan agar kain tersebut jadi terlihat semakin menarik dan tidak monoton. Tahukah Anda ternyata ada banyak sekali jenis-jenis bahan pewarna tekstil lho, mulai dari serat alami hingga yang sintetis.

Keduanya sama-sama kerap digunakan untuk proses pewarnaan kain tekstil, namun keduanya tentu memiliki kualitas yang berbeda. Karakter dari masing-masing jenis pewarna sendiri juga mampu memberikan perbedaan yang cukup mencolok. Nah, berikut ini kami sajikan beberapa kelebihan dan kekurangan masing-masing jenis-jenis bahan pewarna tekstil:

Pewarna Alami

Pertama, tentu saja ada bahan pewarna alami yang biasanya diambil dari serat-serat tumbuhan di alam atau serat hewan. Pada tanaman, bagian serat yang diambil sebagai penghasil warna adalah serat selulosa. Sementara pada hewan, yang diambil adalah serat proteinnya. Dibandingkan dengan serat sintetis, serat alami ini tentu saja lebih aman bagi penggunanya karena minim resiko alergi.

Sayangnya, Anda mungkin memerlukan biaya yang besar jika ingin mengolah bahan-bahan alam di atas menjadi pewarna tekstil. Beberapa contoh pewarna alami yang kerap digunakan adalah: Biji Kesumba (warna merah pekat), Daun Suji (warna hijau pekat), Kunyit (warna kuning pekat), Daun Ketapang (bisa menghasilkan 3 warna yang berbeda: hitam, olive green, dan kuning kecoklatan), dan Kulit Kayu Secang (menghasilkan warna dengan nuansa earth tone, coklat alami, hingga maroon alami).

Pewarna Sintetis

Untuk bahan sintetis dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, mulai dari:

1.    Sintetis Acid

Jenis-jenis bahan pewarna tekstil yang kedua adalah sintetis acid yang diproses dengan memanfaatkan zat asam sebagai penghasil warna. Proses ini biasanya dilakukan di ruangan bertemperatur tinggi. Kelebihan penggunaan jenis bahan pewarna ini adalah bisa menekan biaya produksi. Produk yang diwarnai dengan bahan ini pun dapat dijual dengan harga ekonomis. Sayangnya, warnanya mudah luntur jadi tidak tahan lama.

2.    Sintetis Direct

Pewarna sintetis jenis ini kerap digunakan sebagai pewarna untuk beberapa jenis kain seperti wol, nilon, sutra, dan katun. Warna-warna yang dihasilkan pun cenderung kalem (tidak terlalu cerah) dan lembut. Proses produksinya lebih mudah dan harganya lebih ekonomis. Sayangnya, sama seperti bahan pewarna Sintetis Acid, warnanya mudah luntur dan pudar. Terutama jika sudah dicuci selama beberapa kali.

3.    Sintetis Sulphur

Jenis-jenis bahan pewarna tekstil ini memiliki varian warna yang lebih beragam. Hanya saja tidak semua produsen menggunakan bahan pewarna ini meskipun harganya lebih murah. Salah satu alasan yang mendasarinya adalah tingkat kerumitan pewarnaan yang tinggi.

Nah, itulah segelintir jenis pewarna yang kerap digunakan dalam dunia tekstil. Selain jenis-jenis diatas, tentunya masih ada banyak sekali pewarna lain yang digunakan mengingat kebutuhan pewarna di dunia tekstil sangat beragam dan kompleks. Seiring dengan produk-produk yang semakin bervariasi.

Pewarna Alami vs Pewarna Sintetis, Bagus Mana?

Secara garis besar, bahan pewarna memang dapat dibedakan menjadi pewarna tekstil dan pewarna sintetis. Keduanya memiliki bahan baku, tingkat warna, tingkat kesulitan, sebaran warna, dan kualitas yang berbeda-beda. Lalu, lebih menguntungkan mana? Semuanya sama-sama menguntungkan, Anda bisa menyesuaikan pemilihannya berdasarkan hasil yang diinginkan.

Bahan pewarna alami lebih awet, ia juga lebih aman digunakan, sayangnya prosesnya lebih rumit dan biayanya lebih mahal. Sementara itu pewarna tekstil sendiri cukup mudah didapat, bisa diproduksi dalam skala besar, pilihan warna bervariasi, proses lebih mudah, dan hemat biaya. Sayangnya, beberapa jenis pewarna sintetis mudah luntur.